Time Room
Apa Itu Teman ?
Jadi apa itu teman ?

Hanyakah sebuah susunana kata T-E-M-A-N ?
Atau yang kemana-mana harus bersama dan selalu sepemikiran ?
Yang selalu berucap kata manis meski ada pahit ?
Merubah diri menjadi seolah kuat saat bersama saja ?
Sungguh mecemaskan dan menakutkan jika itu teman..
Terkadang aku terperangkap antara nyata dan maya. Dalam maya, teman seperti dalam film dan cerita. Saling percaya, saling membantu, saling bekerja sama, toleransi dan menjaga kebersamaan. Namun, dalam nyata teman seperti barang yang mudah kadaluarsa. Saling menggunjing dibelakang, jika tak bersama dikucilkan, dan jika bersalah atau berbeda artinya putus hubungan.
Hah,,mengerikan..
Bagiku, teman itu pencarian
Karena teman adalah malaikat
Yang memberi obat saat sekarat
Yang melengkapi saat kekurangan
Yang menasehati saat bersalah, dan
Yang tetap ada, menerima bagaimanapun kita
Aku berusaha seperti itu..
Namun belum ku temukan
Jadi, teman itu ?


saya teringat kata orang bijak, tapi aku lupa namanya, ia bilang begini, "Sahabat itu seperti cermin, padanyalah kita berkaca."
BalasHapusmudah2an sy tdk salah ingat.
^^
hmzz :)
BalasHapuscermin??berkaca??
bukankah cermin itu meliha diri sendiri..
berarti sahabat itu seperti diri sendiri..???
Tentang Cermin
BalasHapusSaya yakin neng Nia sebelum ke kampus, ke mall, atau ke tempat2 umum lainnya, bahkan (maaf, barangkali) sebelum tidur bercermin terlebih dahulu. Di kamar mandi juga pasti dipajang cermin, pun di kantor2 sy melhat ada cermin. Di atas cermin bertulis, "rapi kah anda?". Ketika org bercermin, ia melihat gambar dirinya, entah rupawan/i, rapi/tidak. Singkat kata, dari situ, setidaknya dlm hati ia berkata, "ooo,,aku trnyata 'ganteng' lo, cantik lo, rapi/neces lo." Iya, kan?
Namun, apa yg 'dikatakan' cermin itu bukan sebenarnya, tapi pantulan. Meski potret dicermin hasil pantulan, setidaknya kita mendapatkan 'kesimpulan' ttg diri kita; atas pertanyaan kita. Tapi, jika cermin retak, retak pula gambar kita. Dari pantulan cermin tadi, kita lalu punya rasa percaya diri untuk maju/tampil (contohnya perempuan selalu bawa cermin untuk melihat wajahnya). Nah, sahabat, apalagi sahabat sejati, diibaratkan dengan cermin. Sahabat sejatilah yg mengatakan dg tulus, jujur, polos tentang 'who am I' diri kita sebenarnya. Dengan sahabat sejati, kita ber-curhat, sharing, atau bahkan bertanya prihal 'ada kita'. Benarkan? Dengan dia, kita meminta pendapatnya tentang kekurangan atau mungkin kelebihan kita, atau mungkin saran/masukan lainnya, dan ia pasti mengatakannya dengan jujur dan tulus. Tapi, jika sahabat itu 'retak', bisakah ia mengatakan demikian?
Semoga.
Timo Marten