Tampilkan postingan dengan label Catatan Pelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pelajar. Tampilkan semua postingan

Memulai Menulis

by 10.22
Bagaimana memulai sebuah tulisan ?.
Pertanyaan umum yang sering diajukan di forum diskusi tentang menulis.
Jawabannya pun beragam. Salah satunya ada yang menjawab, “Mulai lah dari apa yang kamu tahu”.

Ini adalah jawaban yang paling populer alias sering muncul. Memang, menulis akan jauh lebih mudah dilakukan jika kita memulai dari apa yang diketahui dan dipahami.
Namun, karenakarakter manusia yang berbeda-beda, jawaban itu menjadi relatif. Artinya, setiap orang punya cara sendiri untuk memulai tulisan. Tidak harus sesuai jawaban itu.

Begitulah yang aku alami. Aku sering kesulitan dalam memulai sebuah tulisan. Kalimat apa yang bagus dtaruh di paragraf pertama (lead)?, bagiku itu penting karena awalan adalah daya tarik sebuah tulisan. Ini akan menentukan pembaca untuk terus membaca atau berhenti.

Namun, berpikir seperti itu hanya akan membuat pusing diri sendiri dan menunda akhirnya. Lalu lupa.. (ini menyedihkan)

Bicaralah Lewat Tulisan

by 09.41
Situasi jadi semakin kacau, teriakan reformasi dimana-mana. Terlebih setelah terbunuhnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti. Emosi massa yang didominasi mahasiswa ada diatas batas, tindakan anarki pun tak terelakkan. Begitulah isi video dokumenter, detik-detik kehancuran orde baru (orba).
Setelah keberhasilan reformasi pintu beropini dibuka selebar-lebarnya dan sebebas-bebasnya. Kala itu mahasiswa bak dewa dengan tittle agen of change. Segala kegiatan dan aktivitas pemerintah yang tak sejalan dengan kepentingan masyarakat tak pernah luput dari kritik dan aksi demonstrasi mahasiswa. Hingga ada ungkapan “belum bisa disebut mahasiswa sejati, jika belum pernah turun ke jalan membela kepentingan rakyat.”
Namun, cara beropini dengan demo tak selamanya ampuh. Fenomena tersebut hanya bertahan sekitar enam hingga tujuh tahun pasca reformasi. Setelahnya, demo hanya dianggap isapan jempol. Belakangan justru dijadikan alat politik penguasa yang jauh dari kepentingan rakyat.

Mengikis Budaya Minder Bangsa Kita

by 09.48

Ada  beberapa macam dan tingkatan Nasionalisme. Salah satunya adalah yang sangat mementingkan penggunaan budaya, termasuk bahasa nasional sebagai simbol Nasioanlisme dan Patriotisme. Hal ini memang paling mudah diamati namun paling sulit untuk dilaksanakan. Pasalnya, bahasa Indonesia kita kalah pamor dengan bahasa asing. Setiap hari, di Internet, di sekolah, di tempat kerja, penggunaan bahasa asing jauh lebih banyak. Alhasil, itu menjadi suatu kebiasaan yang lama-kelamaan akan menjadi tradisi dan budaya kita juga. Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia, akankah sumpah pemuda diganti, “bahasa inggris adalah bahasaku”?.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan masyarakat. Ia biasanya bermula dari kebiasaan yang berlangsung turun-temurun, karena itu mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, ilmu pengetahuan, serta struktur masyarakat, sehingga menjadi ciri khas tersendiri. Masyarakat itu sendiri akhirnya juga mempunyai pengetahuan lebih dari yang lain tentang budaya tertentu.
Sebab itu, kemudian terjadi hubungan timbal balik antara keduanya. Bukan hanya masyarakat yang menciptakan dan membentuk kebudayaan, namun kebudayaan itu juga mempengaruhi pengetahuan, sistem ide dan gagasan yang ada dalam pikiran sutu anggota masyarakat. Baik disadari maupun tidak, hal ini seringkali berpengaruh besar dalam kelangsungan hidup individu-individu yang ada.
Diberdayakan oleh Blogger.