Mencari Makna

by 20.05
Aku sedang menulis. Menulis tentang aku yang tampak tenang dari luar namun sebenarnya galau di dalam. Ini aku, aku yang sedang mencari apa yang terbaik untuk masa depanku. Dan aku, aku yang sedang meraba-raba peluang, mencari jawab tentang yang namanya kesuksesan.
Aku tahu, aku adalah aku. Kodrat hidup bahwa manusia itu berbeda, aku, kamu dan yang lainnya. Beda pula nasib dan cerita hidupnya. Paham, cukup paham aku.
Lalu kini aku menulis. Menulis yang aku tak tahu bisa disebut tulisan apa. Menulis tentang keinginan besarku untuk menulis. Tahukah kau sangat besar keinginanku untuk menulis. Besar, hingga ku tak tahu ukurannya.
Aku tak ingin mengenang masa lalu atau menyalahkan diriku. Diriku yang tak memanfaatkan masa itu. Masa dimana banyak ide mengalir di otakku. Otakku yang gemar berimajinasi a,b,c, hingga z. Hingga begitu banyak kertas terbuang sia, setelah ku tuliskan imajinasiku.
Sudah, yang lalu jadikanm pelajaran saja. Kini aku ingin menulis, ingin, ingin. Tapi tak ada satu tulisan pun yang jadi. Aku sudah baca ini dan itu, hingga mengikuti tips. Namun, tetap saja tak tahu bagaimana caranya memulai. Bagaimana?.
Tiga hal yang sering berputar diotakku sebelum menulis, ”ide, cara memulai, apa makna (pelajaran)”. Tiga hal ini lah kunci untuk menghidupkan aku, nyawa tulisan dan merangsang pembaca. Itulah yang kuyakini sejak dulu. Dulu begitu caraku menulis. Bahagia rasanya, saat teman-teman memiliki respon berbeda tentang tulisanku. Karena respon itu bukti, kalau mereka fokus dan membaca tulisan sampai selesai.
Dan sekarang, kenapa aku belum menulis?. Kenapa jadi begitu rumut untuk melakukannya?. Banyak yang bilang, ”menulis saja!”. Aku sudah menulis, lebih dari menulis saja. Namun, apalah arti tulisan-tulisan itu jika tak bermakna. Tulisan yang sepertinya hanya bisaa ku nikmati sendiri. Tulisan yang, yang, yang, akh..aku tidak tahu yang apa. Yang jelas aku tidak suka tulisan itu.
Ya Tuhan, aku suka menulis, sungguh. Aku ingin jadi penulis, yakin. Tapi aku belum menemukan cara dan jalannya. Belum. 

Setengah Hati yang Utuh

by 19.40
With KKN 19

Selalu ada cerita. Selama kita bergerak menyusuri waktu. Menebak apa yang akan terjadi, karena hidup ini misteri.

Selalu ada kisah. Mungkin kekasih, mungkin teman, mungkin juga musuh. Menciptakan rasa yang berkala, bisa sesaat bisa pula selamanya. Cinta, benci, tawa, tangis, suka dan duka.

Selalu ada yang baru. Keluarga baru, sahabat baru, kekasih baru, mungkin juga musuh baru. Baru akan ditemui jika kamu mencari tahu. Cari dalam hati dan sekitarmu.


Dan kini, jawabnya ada dihadapku. Setengah hatiku berubah utuh. Memori sebulan lalu, bersama kalian teman-teman baruku.



Apa kau percaya kebetulan?. Aku tidak. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Apa yang kita alami adalah buah dari apa yang kita pikirkan dan lakukan.

Dalam

by 09.27
Seperti ombak yang menepi
Kadang besar kadang kecil
Sepeti langit saat siang
Kadang mendung kadang terang
Seperti angin tak terlihat
Kadang menyesatkan
Seperti cuaca tak terbaca
Kadang meraba-raba
Dan seperti pepatah berkata
Kadang bermakna


Seperti apanya itu
Itu yang ada di dalam
Dalamnya dalam
Dalam jiwa, dalam tubuh
Dalamnya pikiran bersumber hati
Dikenalnya ”emosi”


Adanya tak terlihat, rasanya tak terbaca
Hanya sedikit cerita

Diberdayakan oleh Blogger.