Aku sedang menulis. Menulis tentang aku yang tampak tenang dari luar namun sebenarnya galau di dalam. Ini aku, aku yang sedang mencari apa yang terbaik untuk masa depanku. Dan aku, aku yang sedang meraba-raba peluang, mencari jawab tentang yang namanya kesuksesan.
Aku tahu, aku adalah aku. Kodrat hidup bahwa manusia itu berbeda, aku, kamu dan yang lainnya. Beda pula nasib dan cerita hidupnya. Paham, cukup paham aku.
Lalu kini aku menulis. Menulis yang aku tak tahu bisa disebut tulisan apa. Menulis tentang keinginan besarku untuk menulis. Tahukah kau sangat besar keinginanku untuk menulis. Besar, hingga ku tak tahu ukurannya.
Aku tak ingin mengenang masa lalu atau menyalahkan diriku. Diriku yang tak memanfaatkan masa itu. Masa dimana banyak ide mengalir di otakku. Otakku yang gemar berimajinasi a,b,c, hingga z. Hingga begitu banyak kertas terbuang sia, setelah ku tuliskan imajinasiku.
Sudah, yang lalu jadikanm pelajaran saja. Kini aku ingin menulis, ingin, ingin. Tapi tak ada satu tulisan pun yang jadi. Aku sudah baca ini dan itu, hingga mengikuti tips. Namun, tetap saja tak tahu bagaimana caranya memulai. Bagaimana?.
Tiga hal yang sering berputar diotakku sebelum menulis, ”ide, cara memulai, apa makna (pelajaran)”. Tiga hal ini lah kunci untuk menghidupkan aku, nyawa tulisan dan merangsang pembaca. Itulah yang kuyakini sejak dulu. Dulu begitu caraku menulis. Bahagia rasanya, saat teman-teman memiliki respon berbeda tentang tulisanku. Karena respon itu bukti, kalau mereka fokus dan membaca tulisan sampai selesai.
Dan sekarang, kenapa aku belum menulis?. Kenapa jadi begitu rumut untuk melakukannya?. Banyak yang bilang, ”menulis saja!”. Aku sudah menulis, lebih dari menulis saja. Namun, apalah arti tulisan-tulisan itu jika tak bermakna. Tulisan yang sepertinya hanya bisaa ku nikmati sendiri. Tulisan yang, yang, yang, akh..aku tidak tahu yang apa. Yang jelas aku tidak suka tulisan itu.
Ya Tuhan, aku suka menulis, sungguh. Aku ingin jadi penulis, yakin. Tapi aku belum menemukan cara dan jalannya. Belum.

